BUKAN PROFESI, CUMA SEKEDAR HOBI

Menyepelekan Analisa Tingkat Kepadatan Tanah, Fatal Akibatnya!!

Pengerjaan bangunan tanpa mempertimbangkan / menghitung tingkat kepadatan tanah dimana bangunan tersebut akan didirikan bisa berakibat fatal, dan tidak jarang efek buruk dari kecerobohan tersebut terjadi ketika bangunan sudah selesai & ditempati.
Banyak faktor yang harus diperhatikan dalam membangun pondasi
agar bangunan bisa berdiri tanpa bergeser maupun ambles, antara lain kita harus memperhatikan faktor struktur lahan, tingkat kepadatan tanah, & daya serap air. Perlakuan pada lahan bakal bangunan, jenis pondasi yang akan dipakai & tingkat kedalamannya pun akan berbeda menyesuaikan jenis tanahnya.
Lihat gambar dibawah ini:
GambarBangunan diatas belum lama selesai pengerjaannya, mungkin baru beberapa bulan, dan kondisinya baik-baik saja.
Sampai suatu ketika hujan deras mengguyur seharian dan air banyak menggenangi tanah sekitar bangunan, tiba-tiba……batik wedung amblesBlesss……
Bangunan tersebut ambles tinggal setengah badan:mrgreen:
Apa yang terjadi ??🙄

FYI, bangunan tersebut berdiri diatas lahan bekas tambak dan jenis tanahnya adalah endapan lumpur hitam kasar yang mengering. Seperti kita ketahui, tanah endapan lumpur hitam adalah jenis tanah yang sangat labil karena sifatnya yang tidak begitu melekat antar butiran tanah & mudah sekali diencerkan dengan air.
Pada lahan bekas endapan yang biasanya berupa tanah bekas rawa, pendangkalan sungai, bekas tambak, sawah, dll. tidak bisa asal pasang pondasi.
Pada kasus diatas saya prediksi sang tukang hanya menggunakan pondasi footplat dengan kedalaman galian yang mungkin belum mencapai tanah dasar, dan kemungkinan pondasi batu kali nya juga hanya ditanam begitu saja tanpa memberi “akar” pencengkeram pada dasar pondasi batu kali tersebut.
Meski setiap pulang kampung saya pasti melewati bangunan ini tapi saya sendiri belum sempat menanyakan teknis struktur bangunannya pada yang empunya karena kejadian amblesnya baru saja kemarin dan saya belum melihat secara langsung kondisi bangunan yang ambles tersebut, saya hanya mengetahui dari foto yang di upload oleh teman dijejaring sosial.

Lalu, kenapa setelah beberapa bulan baru ambles?
Jawaban sederhananya, karena hujan dengan durasi yang lama kali ini lah yang airnya mampu meresap sampai ketanah dasar pondasi dan melumerkannya menjadi lumpur yang mudah meluber tanpa ada penahan atau pengikat.🙂

Disini, kita tidak akan membahas soal analisa uji kepadatan tanah atau perhitungan tehnik yang njelimet terhadap stuktur & jenis tanahnya, karena saya bukan ahlinya dan bangunan yang kita bahas juga “cuma” bangunan biasa saja🙂

Membangun diatas tanah labil, hal utama yang perlu diperhatikan dalam menghadapi tanah labil seperti tanah bekas endapan lumpur adalah hindari penggunaan pondasi footplat apalagi dengan kedalaman biasa (150cm), karena pondasi jenis ini kurang “mencengkeram & mengurung” tanah.
Dan penggalian sampai tanah dasar pun belum cukup untuk membuat tanah dasar bekas endapan tersebut kuat menahan beban meski bukan bangunan bertingkat, terutama ketika musim penghujan, hal ini karena memang jenis tanahnya yang mudah terurai oleh air dan akan mudah menyebar jika tergencet beban.
Sebagai antisipasinya, untuk memperkuat dasar tanahnya sebaiknya ditanamkan cerucuk dari bambu, kayu, atau pipa yang diisi batang besi & adukan cor akan lebih bagus, penanaman cerucuk minimal 125cm, dan semakin dalam maka semakin bagus. Memang  ribet dan cukup memakan anggaran yang tidak sedikit untuk penanaman cerucuk ini, tapi penanaman cerucuk ini pada tanah labil adalah kebutuhan yang sangat vital karena cerucuk akan berfungsi sebagai “akar” yang akan mengikat & mempertahankan kepadatan tanah dasarnya atas tekanan beban bangunan, setelah itu baru diatasnya bisa dipasang struktur pondasi cakar ayam.
Lihat gambar:

PONDASI CAKAR AYAM DENGAN CERUCUK

Penanaman cerucuk pada dasar pondasi batu kali juga harus, agar pondasi batu kali tidak mudah ambles oleh beban bangunan.
Lihat gambar:

PONDASI BATU KALI DENGAN CERUCUK

Pada lahan bertanah labil seperti diatas bisa saja memakai pondasi jenis footplat jika dinilai membuat pondasi cakar ayam terlalu ribet bagi tukang yang (maaf) kurang ahli, tapi sebelumnya tetap harus ditanamkan cerucuk sebagai “akar”, lalu diatasnya dikasih buis beton yang didalamnya dan disela-selanya diisi adukan cor hingga padat, ini berfungsi sebagai landasan untuk peletakan pondasi footplat.
Lihat gambar:
PONDASI FOOTPLAT DENGAN CERUCUK

Seringkali para tukang mengabaikan pentingnya penanaman cerucuk pada dasar pondasi tanah labil karena dinilai ribet & boros. Tapi perlu diketahui, pemasangan cerucuk sebagai “akar” untuk mempertahankan kepadatan tanah ini sangat banyak membantu, tidak hanya berlaku untuk bangunan rumah saja, pemasangan cerucuk juga seringkali menjadi antisipasi dan solusi bagi proyek pembangunan jalan skala kecil pada tanah yang strukturnya labil agar jalannya tidak mudah ambyar ataupun ambles ketika mendapat tekanan beban kendaraan terutama kendaraan truk yang seringkali muatannya melebihi batas tonase beban jalan.

Mungkin bahasa sederhana yang ingin saya utarakan dalam artikel ini adalah….. agar gedung tinggi bisa kokoh berdiri, maka ditanamkan banyak paku bumi sebagai akarnya.
Demikian pula fungsi cerucuk, yakni sebagai “akar” pada bangunan rumah kita agar tidak mudah ambles😉

18 responses

  1. semoga kejadian ini tidak menular pada bangunan2 tetangga sbelahnya…amin

    24 Februari 2013 pukul 9:15 AM

    • aamiin…..😀
      Semoga garasi avanza merah didekatnya juga ga ambles:mrgreen:

      24 Februari 2013 pukul 12:29 PM

  2. itu namanya apesss😀 wkwkwk….

    24 Februari 2013 pukul 6:47 PM

    • donal

      apes karena kurang telitinya tukang😀

      27 Februari 2013 pukul 10:29 AM

  3. Aa Ikhwan

    sip ajib,.. nice info nih,.. ane jg tanam bambu di dalam tanah😀

    25 Februari 2013 pukul 8:41 AM

    • donal

      sipp….
      mantatatapp….😀

      27 Februari 2013 pukul 10:30 AM

  4. yang terpenting kita berusaha yg terbaik, pasti akan jadi lebih baik semuanya

    12 Maret 2013 pukul 9:18 PM

  5. imperialis

    nah ini yang dikhawatirkan bagi penghuni perumahan low-mid end… rata-rata lokasi sebelumnya memang lokasi rawa & resapan air dari daerah lain…

    dimulai dari aliran air hujan belakang rumah / kamar mandi nggak lari ke drainase depan, tau” dinding sekeliling rumah turun…

    10 Mei 2013 pukul 9:24 AM

    • Iya benar.
      Kasus yg sering terjadi pada perumahan menengah kebawah biasanya dinding menurun dan lantainya pada menonjol & retak meski belum diserah terimakan kepada penghuni, parahnya setelah lantai dipugar & diratain lg ternyata masih retak juga. Kasus retaknya lantai ubin/keramik tsb bisa diminimalisir dengan cara memberi alas plat beton dgn ketebalan >10cm dengan besi anyam didalamnya.

      1 Juni 2013 pukul 4:41 AM

  6. wah ini blog apa yah, isinya teknik sipil

    15 Juli 2013 pukul 12:47 PM

    • blog gado2 pakdhe, sak kenane…😀
      lebih ke hobi kerajinan jane, tp jarang bs ngup-load soale suka lupa motret2 pas proses pembuatannya😀

      15 Juli 2013 pukul 11:00 PM

    • pa_jar

      Kayaknya pernah kenal orang ini…heheee

      16 September 2013 pukul 8:05 AM

  7. memang kehati2an dan ketelitian itu berlaku utk semua hal. Thanks infonya..

    1 Oktober 2013 pukul 2:23 PM

  8. strausspile

    Dokumen fotonya pas banget ada sebelum dan sesudah amblas….
    Coba itu bangunan menggunakan pondasi straus pile pasti ga akan sperti itu jadinya…

    11 Desember 2013 pukul 10:02 PM

  9. Hal yg penting ini sblum bangun rumah😀

    21 Juni 2014 pukul 12:06 PM

  10. semoga tidak terulang lagi

    baca juga donk http://www.duniasehat.web.id/2014/10/glukoma-dan-gejalanya.html

    14 Oktober 2014 pukul 2:16 PM

  11. Wah infonya bermanfaat neh. Bahaya juga ternyata, berarti harus hati-hati lagi.

    30 Desember 2014 pukul 1:49 PM

  12. terima kasih atas kasus amblasnya tanah tsb. tugas kuliah saya selesai🙂

    16 Maret 2015 pukul 12:16 PM

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s