BUKAN PROFESI, CUMA SEKEDAR HOBI

Dan Teman-temanku Pun Akhirnya Memanggilku ‘Mbah’….


Curhat dikit ah…:mrgreen:
Setiap saya punya teman baru, seringkali teman tersebut bingung dengan panggilan ‘mbah’ yang ditujukan ke saya. Ada yang bertanya sebabnya, ada juga yang ga ambil pusing dengan panggilanku tersebut. Ada yang ga ikutan manggil mbah, ada juga yang ikut-ikutan manggil mbah tanpa tahu kenapa saya dipanggil mbah, taunya pokoknya panggilan saya itu ‘mbah’ aja laagh……
Dan ternyata,seringkali teman yang ikut-ikutan manggil ‘mbah’ mengambil kesimpulan sendiri, yaitu pasti karena usia saya yang sudah tua…..:mrgreen:
Maklum, panggilan ‘mbah’ biasanya memang untuk orang yang sudah tua.
Tapi mereka tidak tahu, bahwa saya dipanggil ‘mbah’ sejak saya masih imut-imut berusia 15tahun…..😉
Jadi, “mbah” disini bukanlah panggilan dalam arti sebenarnya yang ada sangkut pautnya dengan umur, tapi itu hanya sebuah julukan.

Lalu kenapa saya dijuluki “mbah” ??
Jaman dahulu kala…..(halahh) waktu saya masih ABG,,  saya seorang bocah yang kreatif, lincah (pecicilan), dan baik kepada semua teman. Kebiasaan saya yang peduli dengan teman dan jadi pendengar yang baik (waktu itu), membuat teman-teman suka berbagi tentang masalah pribadi mereka baik persoalan yang bersifat teknis maupun non teknis (halaahh….opo kui….), istilah sederhanya yaah curhat lhaagh……….:mrgreen: Dan selesai mereka curhat, secara ga sengaja seringkali saya bisa menemukan solusi pemecahan atas masalah tersebut, minimal saya bisa menenangkan pikiran mereka….. Yaagh, namanya dunia anak kecil ABG ya persoalannya tentu ga berat berat amat…. Padahal sebenarnya, kalau mereka mau lebih teliti dalam menganalisa persoalannya, dan lebih kreatif dalam berfikir, mereka ga perlu pusing-pusing mencari saya untuk membantu mereka berfikir sehingga ga jarang saya harus menjadi seorang Mc. Gyver (tokoh film jaman dulu), atau jadi konsultan kepepet, bahkan menjadi psikolog amatiran atas problem mereka, karena saya juga sama seperti mereka, sama-sama makan nasi, sama-sama minum air, malahan kebanyakan….uang jajan mereka lebih besar dari saya, untunglah mereka ga pelit dan suka nraktir saya…..:mrgreen:

Teman saya banyak yang bilang kalau saya itu kreatif, cerdas (mosookk), dan pikiran saya itu kayak orang tua <~~~ ini yang bikin ga enak didengar telinga saya :@
Dilingkungan pergaulan saya, orang yang pandai menyikapi sesuatu dan memecahkan masalah (bahasa sederhananya otaknya encer), seringkali disebut “mbah poleng” (konotasi kata-nya kayaknya jelek atau gimana gitu ya!). Cuma, ada yang “poleng”nya itu untuk kepentingan dan keuntungan dirinya sendiri, ada juga yang untuk membantu teman-temannya.
Dan akhirnya seseorang teman disekolah beserta genknya (yang entah karena sensi atau pro dengan saya, yang jelas mereka yang merasa saya sebagai saingannya) ‘menganugerahkan’ julukan (yang konotasi kata-nya seperti hal jelek tersebut) kepada saya dengan alasan atas dasar kemampuan saya diatas, lalu menyebarkannya dari mulut ke mulut.
Akhirnya dalam waktu yang singkat “virus” itu pun menjalar dan karena pada dasarnya anak ABG itu mudah sekali ikut-ikutan tanpa peduli apa sebabnya maka akhirnya saya pun dikenal dan terkenal dengan julukan tersebut. Jeleknya, saya termasuk orang yang cuek tentang kata orang lain kepada saya, sehingga saya pun ga mau ambil pusing dengan julukan baru tersebut. Hanya saja, kepada teman akrab disekitar saya yang ikut-ikutan manggil dengan julukan tersebut saya katakan bahwa saya tidak suka dipanggil  “mbah poleng”, terutama pada kata “poleng”nya. Saya katakan kalau lidah kalian sudah terlanjur terbiasa dengan ucapan tersebut, bolehlah memanggil julukan saya, tapi saya tetap tidak suka dipanggil “poleng” dengan alasan ga nyaman ditelinga saya.
Sejak itu, mereka pun cuma manggil saya dengan julukan “mbah” saja tanpa kata “poleng”, ada juga yang memanggil dengan julukan “mbah po” saja.

Sampai sekarang, banyak teman yang ga tahu kenapa saya mendapat julukan tersebut. Hanya segelintir teman sepermainan waktu dulu (yang sekarang entah pada menyebar kemana) yang tahu asal muasal julukan tersebut.
Dan dengan saya tulis disini mudah-mudahan saya ga perlu menjelaskan panjang lebar lagi bila ada yang bertanya dan memaksa saya untuk bercerita tentang asal muasal julukan itu, cukup saya suruh baca sendiri aja tulisan ini…😀

2 responses

  1. bejo

    mbahh….

    28 Oktober 2011 pukul 11:41 PM

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s